Wamen LHK Sebut Konsep Forest Healing Berikan Kontribusi Bagi Kesehatan

oleh -1 views

AKSES DISINI – Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Alue Dohong mengatakan, dulu pengelolaan taman nasional menerapkan pola pemagaran atau berpagar.

Namun, ia berharap saat ini taman nasional tidak hanya berfungsi sebagai konservasi, tetapi juga pemanfaatan jasa lingkungan dan wisata alam.

“Dulu pengelolaan taman nasionalnya menerapkan pola pemagaran atau pemagaran, tidak ada kaitannya dengan itu. Sekarang kita ingin selain fungsi konservasi juga ada pemanfaatannya dalam arti jasa lingkungan dan wisata alam,” kata Alue Dohong. saat Kunjungan Jurnalistik ke Taman Nasional Gunung. Gede Pangrango (TNGGP), Cibodas, Jawa Barat, Selasa (6/4/2021).

Wakil Menteri (Wamen) Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Alue Dohong saat melintasi Jembatan Gantung Situ Gunung Sukabumi, Kamis (11/6/2020). [Sukabumiupdate.com]
Wakil Menteri (Wamen) Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Alue Dohong saat melintasi Jembatan Gantung Situ Gunung Sukabumi, Kamis (11/6/2020). [Sukabumiupdate.com]

Alue menuturkan, berwisata sambil menikmati keindahan alam juga merupakan cara penyembuhan yang efektif, yakni konsep forest healing.

Baca juga:
Gunung Gede Pangrango Resmi Dibuka, Kuota Sehari Hanya 300 Orang

Ia mengatakan konsep penyembuhan hutan tidak sejauh berjalan di taman nasional, tetapi berarti setiap langkah di taman nasional atau di kawasan hutan.

“Masuk ke hutan bukan seberapa jauh atau berapa langkah yang kita ambil, tapi dengan mengartikan setiap langkah yang kita lakukan di taman nasional atau di kawasan hutan,” kata Alue.

Dengan demikian, penyembuhan hutan dapat berkontribusi pada kesehatan mental atau sebagai sumber penyembuhan

“Dengan begitu, tidak hanya tubuh, tapi juga bisa menyumbang kesehatan mental. Masuk ke dalam hutan juga bisa menghilangkan stress dan penat. Dengan melihat keindahan alam, juga bisa kebal,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Alue juga mengingatkan tantangan kawasan wisata alam yaitu bagaimana mengelola sampah.

Baca juga:
Kabar Baik untuk Pendaki! Gunung Gede Pangrango Resmi Dibuka, Begini Syaratnya

Hal ini penting dilakukan agar pecinta wisata alam tidak terusik dengan membuang sampah sembarangan, termasuk di jalur pendakian.

“Apalagi sampahnya sulit atau bahkan tidak terurai di alam. Keindahan dan keunikan yang ada di alam, jangan sampai tercemar sampah,” ucapnya.

Alue juga berpesan agar ekowisata bisa menjadi penggerak ekonomi hijau di Indonesia.

Pengelolaan wisata alam, kata Alue, membuka lapangan kerja sehingga memberikan kontribusi bagi pendapatan masyarakat, daerah, dan negara.

“Menurut saya salah satu peluang Indonesia ke depan adalah ke arah green economy. Jadi paradigmanya sudah berubah, tidak perlu lagi mengeksploitasi alam, tapi dengan menerapkan multi jasa lingkungan,” kata Alue.

Untuk diketahui, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dengan luas 24.270,8 hektar memiliki banyak potensi. Secara administratif, TNGGP mencakup tiga wilayah, yaitu Cianjur, Sukabumi, dan Bogor.

Kepala Pusat TNGGP Wahju Rudianto mengatakan, TNGGP merupakan hulu dari empat Daerah Aliran Sungai (DAS) utama, yaitu Cimandiri, Citarum, Ciliwung, dan Cisadane.

Posisi strategis tersebut, menurut Wahju, menjadikan kawasan TNGGP memiliki fungsi penting dalam memenuhi kebutuhan air masyarakat sekitar.

Dengan curah hujan tahunan sebesar 3.000-4.000 mm, menjadikan TNGGP sebagai sumber air tawar dengan kapasitas 594 miliar liter per tahun.

“Sebagai salah satu dari lima taman nasional tertua di Indonesia, kami berprinsip bahwa untuk setiap jengkal kawasan TNGGP penting untuk diketahui potensinya, termasuk flora dan faunanya, baik di atas maupun di bawah tanah,” kata Wahju Rudiarto. , Kepala Kantor Taman Nasional. Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. (T