Uji Coba Belajar Tatap Muka, DPR Harap Seluruh Sekolah Buka di Juli 2021

oleh -0 views

AKSES DISINI – Uji coba membuka sekolah tatap muka di tengah pandemi Covid-19 sudah dimulai di sejumlah daerah. Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian mengatakan pembukaan sekolah secara bertahap memang ditargetkan dalam waktu dekat.

Hetifah mengatakan, uji coba sekolah tatap muka yang telah dilakukan sejak beberapa waktu lalu merupakan upaya untuk secara bertahap mendorong tuntasnya pembukaan sekolah pada Juli mendatang.

“Memang itulah yang sedang didorong saat ini. Harapannya Juli semua sekolah sudah bisa buka dengan protokoler yang aman, karena sudah dicoba beberapa bulan,” kata Hetifah dihubungi, Kamis (8/8). 4/2021).

Meski sudah mulai dibuka secara bertahap di tengah pandemi, Hetifah mengingatkan kebijakan pembukaan sekolah harus dilakukan dengan hati-hati dan berdasarkan bukti di lapangan.

Baca juga:
2.800 SMA / SMK di Jawa Barat Diizinkan Gelar Sekolah Tatap Muka

Selain itu, kata Hetifah, kuncinya adalah koordinasi antarlembaga. Dimana tidak hanya dinas pendidikan, tetapi juga dinas kesehatan, dinas perhubungan, dan Satgas Covid-19 di wilayahnya masing-masing.

“Pengawasan oleh masyarakat sangat penting dalam menjalankannya, mulai dari orang tua, komite sekolah, ombudsman, perwakilan masyarakat, dan berbagai elemen masyarakat lainnya. Dalam uji coba ini kita bisa melihat sekolah mana yang cocok untuk PTM dan mana yang tidak. serta intervensi apa saja yang dibutuhkan, ”kata Hetifah.

Risikonya masih tinggi

Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban mengatakan, risiko penularan Covid-19 kepada guru dan siswa masih tinggi.

Ini mengikuti angka positif (rate of transmission) Covid-19 di Indonesia yang masih di atas 10 persen, angka ini masih sangat berbahaya.

Baca juga:
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Sekolah Tatap Muka Terbatas 2021

Bukan hanya anak sekolah yang sangat rentan terhadap pelanggaran protokol, atau karena guru merasa tidak nyaman mengajar menggunakan masker atau pelindung wajah, namun yang perlu diingat adalah bahwa virus SARS CoV 2 penyebab Covid-19 dapat menyebar melalui udara maupun udara.

“Itu sebagian penularannya karena masker yang dilepas memang benar. Tapi yang terpenting virus itu ada di udara, bisa menyebar melalui udara ke seluruh kelas,” kata Prof. Zubairi.

Risiko protokol kesehatan rentan dilanggar ketika sekolah-sekolah tersebut diperburuk oleh situasi pandemi Covid-19 yang tidak terkendali, sehingga tidak pantas untuk membuka kembali sekolah tatap muka, meski hanya uji coba.

Dokter yang akrab disapa Prof. Give itu juga menjelaskan, situasi dikatakan aman dan sekolah bisa dibuka jika angka positifnya di bawah 5 persen.

“Tingkah laku anak-anak cenderung melanggar protokol. Lalu kalau tidak, tidak apa-apa? Tetap tidak, tidak apa-apa jika angka positivitasnya kurang dari 5 persen,” jelasnya.

Lebih lanjut, Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu membantah anggapan bahwa anak-anak tidak berisiko tertular Covid-19. Pasalnya, banyak kasus anak-anak yang ditemukan meninggal akibat Covid-19.

“Tidak benar anak aman, karena banyak anak Indonesia yang meninggal karena Covid-19, itulah yang menurut saya tidak tepat untuk membuka (sekolah) saat ini,” pungkas Prof. Zubairi.

Sementara itu, Dinas Pendidikan DKI Jakarta sudah mulai membuka 85 sekolah yang terdiri dari SD, SMP hingga SMA / SMK mulai 7 April hingga 29 April 2021, dengan sejumlah ketentuan yang harus dipatuhi.

Diantaranya, seperti durasi pembelajaran 3 sampai 4 jam, kapasitas 1 kelas hanya 50 persen, ditambah jarak antar kursi siswa 1,5 meter.

Namun perlu diingat juga, data Satgas Covid-19 per 28 Maret 2021 menunjukkan bahwa 14 persen atau 181.637 kasus Covid-19 adalah mereka yang merupakan anak usia sekolah, dengan rincian sebagai berikut:

  1. Usia 0 sampai 2 tahun (PAUD) sebanyak 23.934 kasus.
  2. Usia 3 sampai 6 tahun (TK) sebanyak 25.219 kasus.
  3. Umur 7 sampai 12 tahun (SD) sebanyak 49.962 kasus.
  4. Usia 13 sampai 15 tahun (SMP) sebanyak 36.634 kasus.
  5. Usia 16 sampai 18 tahun (SMA) sebanyak 45.888 kasus.