Rumiah: Banten Sial di PON XX | AksesDisini.com -Banten Hari ini

  • Bagikan

SERANG – Hasil yang diraih kontingen Banten di PON XX Papua tidak dianggap gagal. Kontingen Banten diyakini hanya sial di Bumi Cenderawasih.

PON XX Papua.

Hal itu dikatakan Ketua Umum KONI Banten, Rumiah Kartoredjo, terkait raihan 10 emas, 15 perak, dan 26 perunggu serta bercokol di posisi 14 klasemen akhir perolehan medali.

Menurut Rumiah, apa yang diperoleh kontingen Banten di Papua tidak jauh berbeda dengan hasil di PON Jabar 2016. Dilihat dari klasemen, Banten hanya turun 1 strip, dari peringkat 13 menjadi 14. Sementara dari perolehan medali emas, Banten hanya kehilangan 1 emas, dari 11 keping menjadi 10 keping.

“Sementara perunggu kita tetap jumlahnya. Yang justru melonjak adalah perak, dari 10 di Jawa Barat menjadi 15 di Papua. Bahkan dari perak yang kurang beruntung menjadi emas,” jelasnya.

Ia menambahkan, banyaknya atlet Banten yang meraih medali perak bisa dilihat dari cabang olahraga panjat tebing, binaraga, dan judo.

Atlet panjat tebing putri Banten Rajiah Salsabilla terpeleset saat tampil di final melawan atlet Bali. Padahal Rajiah sudah lebih dulu memimpin dan dikukuhkan sebagai juara karena pernah memecahkan rekor nasional di babak semifinal nomor Rekor Dunia Speed. Sayangnya, kaki kanannya salah. Rajiah harus puas dengan perak.

Contoh lainnya adalah binaragawan Banten Tjie Rachmad Wijaya yang harus puas dengan perak kelas +85kg. Pejabat dari Banten dan beberapa provinsi lain memprotes karena peraih emas asal Aceh itu berbobot di bawah 85kg. Bukti bahwa berat badan atlet Aceh tidak memenuhi syarat sempat viral. Sayangnya, semua bukti dan protes yang diajukan ditolak majelis hakim.

Kemudian ada atlet judo Banten Amanah Istiqomah di kelas 52kg yang harus kalah dari lawannya Maryam Maharani asal DKI Jakarta akibat cedera lutut pasca operasi. Bahkan, Amanah sering lebih unggul dari Maryam sejak bertemu di kategori mahasiswa.

“Faktor non teknis inilah yang saya maksud dengan istilah kurang beruntung bagi atlet kita. Saya sedih melihat perjuangan mereka kandas karena hal-hal seperti itu,” kata pensiunan Polri berusia 69 tahun itu.

Meski demikian, Rumiah tetap angkat topi dan mengapresiasi segala upaya dan perjuangan para atlet Banten untuk mengejar prestasi terbaiknya. Ia juga berharap para atlet dan pelatih harus tetap semangat ke depan. Pasalnya, Banten masih membutuhkan mereka di multi event berikutnya, yakni PON XXI di Aceh dan Sumut pada 2022.

Atlet, pelatih dan ofisial diminta optimis ke depan cita-cita masuk jajaran elite olahraga nasional pasti bisa diraih oleh atlet Banten.

“Tidak lupa, saya juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh atlet, pelatih dan ofisial yang telah berjuang dengan maksimal. Saya juga mohon maaf jika selama ini saya belum bisa memenuhi kebutuhan kalian,” pungkas Rumiah yang akan mengakhiri. posisinya pada akhir tahun 2021.

Seperti diketahui, Banten awalnya ditargetkan masuk 10 besar oleh Gubernur dan Wakil Gubernur Banten. Banten diharapkan mampu meningkatkan posisinya dari peringkat 13 pada PON XIX Jabar 2016 dan masuk ke posisi elite 10 besar pada PON XX Papua 2021.

Menurut catatan redaksi, Pemprov Banten menganggarkan Rp 23,4 miliar untuk kebutuhan bertanding di PON XX Papua. Sedangkan saat berlaga di PON XIX Jabar, para atlet dibiayai Rp 75 miliar dari APBD Banten. (Jaringan / PON)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: