Petani Sawit Plasma Di Sepauk Kecewa Tuntut PT.Citra Kalbar Sarana (CKS)

oleh -0 views

AKSES DISINI, Sintang, Kalimantan Barat – Diwakili puluhan petani sawit dari 11 desa di Kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat, melancarkan panen perdana sawit dari PT Citra Kalbar Sarana (CKS) pada Senin, 05 April 2021 sebagai bentuk tuntutan keadilan bagi perusahaan, tindakan dilakukan secara adat, dan dilakukan dengan protokol kesehatan

Berdasarkan hasil musyawarah dengan petani plasma sawit dari PT Citra Kalbar Sarana (CKS) pada Kamis 11 Maret 2021 di rumah Pak Jambak, Desa Manis Raya, yang membahas tentang pembagian lahan dan bagi hasil dari lahan plasma.

Sukarca selaku ketua koordinator atau ketua tim pengelolaan panen buah sawit 2021 mengatakan, hasil musyawarah Super Semar menghasilkan kesepakatan bersama terkait pelaksanaan panen sawit terstruktur serentak di semua divisi.

Setelah berdiskusi, ditetapkan bahwa, mengenai panen sawit oleh petani sendiri pada 05 April 2021 bersama tim dan petani sawit (perkebunan plasma), tanam tahun 2004 hingga 2008 di 11 desa yang dikelola PT. CKS di 5 divisi, sebagai dasar tindakan berdasarkan keputusan rapat tanggal 08 Agustus 2018.

“Saya di sini sebagai Ketua Tim yang terdiri dari 23 orang yang terdiri dari masing-masing divisi. Ada juga beberapa Kepala Desa yang sudah mengadakan musyawarah dan puncak kegiatannya hari ini,” kata Sukarca.

Ia mengatakan, masyarakat ingin menuntut kesejahteraan dari hasil lahan plasma di PT. Perkebunan kelapa sawit KSC terhitung dari tahun 2004 sampai sekarang pada tahun 2021 yang berarti umur kelapa sawitnya kurang lebih 15 tahun.

“Kenapa kita menuntut kesejahteraan, misalnya saat ini hasil dari kebun plasma sawit yang dipanen per hektar petani hanya menerima Rp. 4.000, -, ada yang Rp 8.000, -, ada yang hanya Rp 10.000,” ujarnya. menjelaskan.

PT. CKS
Ketua tim pemanen buah sawit plasma tahun 2021 Sukarca bersama anggota DPRD Kabupaten Sintang Jhon Xifli, Doc Photo Analisnews

Masih menurut Sukarca, ia memiliki lahan seluas satu hektar, di divisi 3 Sp.4 selama 6 bulan hanya berpenghasilan Rp. 200.000. Hal inilah yang menjadi perhatian kita semua bagaimana masyarakat petani plasma sawit bisa sejahtera jika hasilnya tidak memadai.

“Perlu dicatat bahwa gerakan kita tidak hanya hari ini saja, tapi sebelumnya seperti tahun 2016 lalu, anggota DPRD Kabupaten Sintang juga turut membantu menuntut hak-hak masyarakat dari PT. CKS.

“Alhamdulillah akhirnya saat itu kami diwakili oleh masing-masing perwakilan dari desa dan juga dari KUD Cinta Kasih, serta dari PT. CKS yang bertempat di lingkungan Wakil Bupati Sintang, semoga masalah kedua belah pihak akan teratasi di 2017, “katanya.

Namun hingga saat ini, kesepakatan antara petani dan perusahaan hingga tahun berikutnya nihil.

“Yang kami maksud adalah tidak ada kepastian hukum dan hak-hak petani, padahal yang diserahterimakan kepada masyarakat adalah tanah bersertifikat, tanah adat, seperti yang dijanjikan perusahaan untuk mensejahterakan petani, tapi sekali lagi hasilnya nihil, Sukarca menjelaskan dengan bersemangat.

Sebagai catatan tindakan ini dengan semboyan
1. Mari kita kepemilikan petani kelapa sawit di 11 desa di wilayah kerja PT. CKS (Citra Kalbar Sarana), Kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang.
2. Selama ini petani plasma sawit tidak mendapatkan hak atas pendapatan yang layak, tidak sesuai dengan kesepakatan / kemudian pendapatan palsu.

Di tempat yang sama, anggota DPRD Sintang John Xifli selaku perwakilan Rakyat turut mendampingi aksi publik terhadap perusahaan tersebut.

Saat diwawancarai, Jhon Xifli mengatakan bahwa klaim tersebut sangat wajar dilontarkan masyarakat karena bagi hasil perusahaan kepada petani tidak layak dan ini menjadi perhatian kita semua.

“Bahkan ada sebagian petani yang mengatakan ini sama dengan kolonialisme, bagi hasil yang didapat sangat tidak memadai, inilah yang menjadi cikal bakal petani sawit melakukan aksi,” kata Jhon Xifli.

Ketika ditanya tentang upaya DPRD Kabupaten Sintang, Jhon Xifli mengatakan bahwa kami sudah melakukan rapat dengan perusahaan, namun belum sampai pada musyawarah inti plasma.

“Kami sudah menyiapkan banyak sekali agenda, salah satunya kami terjun langsung ke lapangan melihat kondisi riil dan mendengarkan aspirasi yang disampaikan masyarakat kepada kami,” ujarnya.

Jhon Xifli menjelaskan, ada beberapa agenda yang harus diselesaikan DPRD Kabupaten Sintang, antara lain masalah legal formal, masalah CSR, masalah ketenagakerjaan, AMDAL, inti plasma dan lain-lain.

“Kami belum sampai pada masalah inti plasma karena di Kabupaten Sintang ada 46 perusahaan, sedangkan PT. CKS belum sampai,” jelasnya.

Dari hasil investigasi lapangan ini, menurut keterangan Jhon Xifli, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Ketua DPRD Kabupaten Sintang dan akan mengundang semua pihak, yakni PT. CKS, KUD Cinta Kasih, perwakilan petani plasma sawit.

Intinya, sebelum masalah ini meluas, DPRD Kabupaten Sintang akan segera melakukan rapat dengan semua pihak agar haknya terpenuhi dan haknya terpenuhi, ”pungkasnya.

Turut hadir dalam acara tersebut adalah manajemen panen buah plasma sawit, Manajemen KUD Cinta Kasih, masyarakat, anggota DPRD Kabupaten Sintang, unsur Forkopimcam, baik Bhabinsa, Bhabinkamtibmas yang mengawal kegiatan agar kondusif, serta cetak, elektronik dan media massa online. )