Ngeri! Perang Antarsuku Pecah di Sudan, 40 Orang Tewas

oleh -1 views

AKSES DISINI – Pemerintah Sudan mengumumkan keadaan darurat di Darfur Barat setelah sedikitnya 40 orang tewas dan 58 luka-luka dalam bentrokan tiga hari antara suku-suku di ibu kota negara bagian, El Geneina, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Insiden itu adalah yang terbaru dalam kekerasan yang muncul kembali di Darfur sejak perjanjian perdamaian ditandatangani pada akhir 2020 dan pasukan penjaga perdamaian PBB menarik diri dari wilayah tersebut.

Pada Januari, sedikitnya 129 orang tewas dan 108.000 orang masih mengungsi setelah bentrokan serupa terjadi di El Geneina antara anggota suku Masalit dan Arab. Bala bantuan militer, yang dulunya dikerahkan ke kota itu, sebagian besar telah ditarik, kata penduduk kepada Reuters.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada Senin (5/4), komite keamanan dan pertahanan Sudan mengatakan telah memberi wewenang kepada pasukan untuk mengendalikan situasi dan melanjutkan gerakan perlucutan senjata paksa di wilayah tersebut.

Baca juga:
Meneliti Anak Domba Batur, Pria Sudan, Menemukan 2 Variasi Genetik

Menurut warga El Geneina serta buletin keamanan internal PBB, yang dilihat oleh Reuters, ada penggunaan senjata berat dan granat berpeluncur roket di sana.

Gambar dan video yang diambil sejumlah warga menunjukkan gumpalan asap di beberapa wilayah pemukiman kota.

“Kota ini penuh dengan penjahat bersenjata dan kami tidak melihat kehadiran militer yang nyata untuk dapat melindungi warga sipil,” kata seorang warga.

Pada Oktober tahun lalu, pemerintah transisi Sudan menandatangani kesepakatan damai dengan beberapa kelompok pemberontak Darfur yang menentang Presiden Omar al-Bashir yang digulingkan.

Namun, serangan oleh anggota suku Arab Bashir – yang dipersenjatai untuk melawan pemberontak – telah meningkat, begitu pula bentrokan antar suku.

Baca juga:
Penelitian Domba Batur, Dosen dari Sudan Menjadi Doktor Pertama Fakultas Peternakan Unsoed

Sebuah laporan PBB mengatakan kelompok yang menandatangani perjanjian itu juga mulai merekrut pejuang di seluruh wilayah.

Pasukan penjaga perdamaian internasional awal tahun ini mulai mundur.

Pemerintah Sudan mengatakan pasukan penjaga perdamaian gabungan baru, yang diamanatkan berdasarkan perjanjian, akan dapat melindungi warga sipil. Namun, banyak orang di Darfur mengatakan bahwa mereka merasa kurang aman. (Sumber: Antara / Reuters)