Menko Airlangga: Transformasi Digital dan Isu Berkelanjutan Jadi Kunci Penting Percepatan Pencapaian Target MEA 2025

  • Bagikan
Menko Airlangga: Transformasi Digital dan Isu-isu Sustainable Kunci Penting Percepatan Capaian Target MEA 2025

AKSES DISINI.com-Keketuaan Brunei Darussalam di ASEAN 2021 mengangkat tiga tema penting, yaitu Recovery, Digitalization dan Sustainability. Menyikapi tema digitalisasi, pertemuan ASEAN Economic Community Council (AECC) ke-20 juga mengundang para Menteri Komunikasi dan Informatika dari seluruh negara anggota ASEAN untuk berkolaborasi dan meningkatkan kerja sama dalam mewujudkan transformasi digital di ASEAN.

ASEAN memandang transformasi digital sebagai memberikan peluang baru untuk pengembangan bisnis dan berkontribusi pada pemulihan pascapandemi yang berkelanjutan di kawasan. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto selaku Ketua Dewan MEA mendukung penuh upaya berkelanjutan untuk meningkatkan keterampilan digital UMKM melalui berbagai inisiatif di ASEAN, seperti ASEAN SME Academy, Go Digital dan ASEAN Access, serta integrasi UMKM ke dalam Global Value Rantai.

Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri AECC (Pertemuan Tingkat Menteri Dewan Masyarakat Ekonomi ASEAN) ke-20 yang digelar secara virtual pada Senin 18 Oktober 2021 di Jakarta. Pertemuan yang dipimpin oleh Menteri di Kantor Perdana Menteri dan Menteri Keuangan dan Ekonomi II, Brunei Darussalam, Dato Dr. Amin Abdullah ini dihadiri oleh seluruh Menteri Dewan AEC dari 10 Negara Anggota ASEAN.

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto.

“Kolaborasi ini menjadi kunci dalam merancang kebijakan dan regulasi untuk mengelola disrupsi dan memaksimalkan manfaat ekonomi digital melalui pendekatan kolektif transformasi digital di ASEAN,” kata Menko Airlangga.

Pertemuan menyepakati 2 (dua) dokumen penting sebagai komitmen pengembangan ekonomi digital, yaitu: (1) Peta Jalan Bandar Seri Begawan Percepatan Pemulihan Ekonomi ASEAN dan Integrasi Ekonomi Digital; dan (2) Pernyataan Pemimpin ASEAN tentang Memajukan Transformasi Digital di ASEAN.

Lebih lanjut Menko Airlangga menekankan bahwa pandemi telah mempercepat proses transformasi digital di dunia, termasuk di ASEAN. Ia juga mengajak negara-negara ASEAN untuk memanfaatkan pasar internet dunia yang berkembang pesat untuk membangun ekonomi digital ASEAN seperti e-commerce, dukungan travel dan ride hailing.

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto.

Sementara itu, Edutech dan Healthtech menjadi sektor utama pendukung ekonomi digital baru di ASEAN di masa pandemi. Sebagai gambaran, pengguna internet di ASEAN meningkat dari 260 juta pada 2015 menjadi 400 juta pada 2020. Hingga Januari 2021, penetrasi pengguna internet di ASEAN telah mencapai 69%.

Menko Airlangga menginformasikan negara ASEAN saat ini Indonesia memiliki 1 startup decacorn yaitu GoTo (Gojek-Tokopedia) dan 6 startup unicorn yakni Bukalapak, Traveloka, OVO, J&T Express, Xendit (Payment Gateway) dan yang terbaru adalah Ajaib (Fintech). . Indonesia juga pada Forum Liga Inovasi G20 2021 yang diadakan di Sorrento, Italia meraih 2 penghargaan untuk startup inovasi unggulan, yaitu Nalagenetics (kategori Mobilitas dan Perawatan Kesehatan) dan Ruangguru (kategori Kecerdasan Buatan).

Untuk mendukung agenda transformasi digital dimana Pemerintah bertindak sebagai fasilitator, Menko Airlangga menekankan 5 hal, yaitu: (a) Menciptakan regulasi yang inklusif, koheren dan holistik untuk pengembangan ekonomi digital dan mendukung inovasi; (b) Memperluas infrastruktur telekomunikasi dan memastikan akses internet yang terjangkau; (c) Memperkuat kerjasama dengan sektor swasta dalam penelitian dan perumusan kebijakan; (d) Mempercepat literasi digital dan menyiapkan talenta digital; dan (e) Meningkatkan produktivitas dan inovasi melalui digital di sektor publik.

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto.

Sektor pariwisata menjadi salah satu perhatian utama dengan mengupayakan pembukaan kembali sektor pariwisata yang aman sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi. Indonesia telah membuka kembali Bali, Batam dan Bintan sebagai destinasi wisata internasional pada 14 Oktober 2021, dengan penerapan protokol kesehatan (prokes), melalui standar nasional dan sertifikasi Hygiene, Health, Safety and Environment (CHSE).

“Pada isu prioritas Berkelanjutan, Indonesia memberikan dukungan dan berkomitmen untuk menerapkan prinsip-prinsip ekonomi sirkular sebagai bagian dari ekonomi berkelanjutan dan menciptakan lapangan kerja hijau. Hal ini sejalan dengan kebijakan nasional dengan berkomitmen mengurangi limbah makanan hingga 50 persen dan limbah tekstil sebesar 14 persen,” kata Menko Airlangga.

Isu krusial lainnya yang dibahas adalah hasil dari MTR Cetak Biru MEA 2025 dimana peningkatan nilai perdagangan intra-ASEAN relatif moderat selama beberapa tahun terakhir. Untuk itu, Menko Airlangga menjelaskan perlunya mendorong hasil MTR ini sebagai katalisator efektivitas program strategis yang lebih tepat sasaran berdasarkan parameter terukur dan dapat dicapai. Program ekonomi biru dan ekonomi hijau perlu dipertimbangkan sebagai mesin pertumbuhan baru dan menjaga ASEAN tetap relevan dengan perkembangan global.

Indonesia yang akan menjadi Ketua ASEAN pada tahun 2023 berperan penting dalam merumuskan arah ASEAN setelah tahun 2025. Ada 5 (lima) isu penting yang perlu mendapat perhatian, yaitu: a) Digitalisasi, teknologi dan inovasi, b) Publik Kesehatan, c) Perubahan Iklim dan kelangkaan sumber daya, d) Perubahan kekuatan ekonomi global, dan e) Pergeseran demografis dan urbanisasi.

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto.

“Visi Komunitas ASEAN Pasca-2025 perlu memperhatikan kondisi saat ini melalui peningkatan kerjasama penelitian dan pengembangan di bidang bioteknologi, terutama untuk mendukung kapasitas produksi vaksin di ASEAN. Pembahasan lebih lanjut terkait penyusunan Visi Komunitas ASEAN Pasca-2025 perlu melibatkan tiga pilar, terutama dalam membahas pengembangan isu lintas sektoral dan kapasitas mekanisme kelembagaan ASEAN,” pungkas Menko Airlangga.

Sementara itu, turut hadir mendampingi Menko Perekonomian dan Mendag dalam pertemuan virtual ini Plt. Deputi Bidang Koordinasi Kerjasama Ekonomi Internasional Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: