Kunjungi PT Krakatau Steel, Komisi VII DPR Ingin Pengetatan Impor Baja | AksesDisini.com -Banten Hari ini

  • Bagikan

CILEGON – Komisi VII DPR RI melakukan kunjungan kerja (Kunker) ke PT Krakatau Steel (Persero) Tbk yang dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Maman Abdurahman. Rombongan diterima oleh Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim dan jajaran direksi Krakatau Steel lainnya.

Turut hadir dalam kunjungan tersebut Direktur Industri Logam Kementerian Perindustrian, Budi Susanto. Kunjungan Kerja Komisi VII DPR RI ini bertujuan untuk melihat secara langsung dan memperoleh informasi terkait pemanfaatan industri baja yang dijalankan oleh Krakatau Steel, khususnya fasilitas baru Hot Strip Mill #2 milik Krakatau Steel, untuk mendapatkan informasi terkait kemajuan pembangunan sektor industri khususnya baja yang sangat penting bagi perekonomian Indonesia, serta memperoleh informasi mengenai kendala dan dukungan yang diperlukan untuk memperkuat industri baja dalam negeri.

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Maman Abdurahman menyatakan bahwa industri baja merupakan industri yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Konsumsi baja Indonesia masih sangat rendah, sehingga Krakatau Steel memiliki peluang besar untuk lebih meningkatkan kinerja penjualannya untuk pasar domestik dan memperluas pasar ekspor.

“Untuk mencapai kemandirian industri baja di Indonesia, sudah sepatutnya pemerintah mendukung pengetatan impor baja melalui kebijakan yang berpihak pada industri nasional. Kebijakan tersebut antara lain baja anti dumping, pengawasan barang masuk di pelabuhan, dan sebagainya. pada,” kata Maman, Sabtu (9/11/2021).

Selain itu, Maman mengapresiasi upaya manajemen Krakatau Steel saat ini dalam meningkatkan kinerja Krakatau Steel dari sebelumnya merugi menjadi perusahaan baja yang menguntungkan pada 2020.

Dalam paparannya, Presiden Direktur Krakatau Steel, Silmy Karim menyampaikan bahwa Krakatau Steel kini semakin kompetitif. Krakatau Steel berhasil menekan biaya operasional sebesar 28 persen sehingga mampu menghemat Rp. 1,9 triliun pada 2020. Di tahun yang sama, Krakatau Steel berhasil membukukan laba Rp. 333,5 miliar.

“Pencapaian ini menunjukkan bahwa Krakatau Steel saat ini semakin kompetitif. Hasil transformasi dan efisiensi yang dilakukan menunjukkan peningkatan yang positif. Optimalisasi penggunaan biaya operasional untuk kegiatan produksi dan peningkatan kinerja anak perusahaan, termasuk pengembangan bisnis, sangat berpengaruh dalam berkontribusi terhadap peningkatan kinerja Krakatau Steel,” jelas Silmy.

Upaya Krakatau Steel yang semakin baik harus didukung oleh daya saing industri melalui serangkaian kebijakan. Ada dua bidang kebijakan yang diperlukan untuk meningkatkan daya saing industri besi dan baja nasional, yaitu kebijakan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan trade remedies.

Meningkatkan efektifitas pemberlakuan SNI wajib, percepatan pengenaan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) untuk produk Colled Rolled Coil (CRC), Cold Rolled Sheet, Hot Rolled Coil, BjLAS, Cold Rolled Stainless Steel, serta perluasan pengamanan terhadap bagian I dan H.

Silmy mengatakan, volume impor baja pada 2020 masih cukup tinggi, yakni 4,77 juta ton. Hingga semester 1 2021, volume impor baja mencapai 3,05 juta ton, meningkat 16% dibandingkan tahun 2020.

“Peningkatan impor terbesar pada Semester 1 2021 terjadi pada produk Cold Rolled Coil/Sheet yang meningkat sebesar 42%. Dari total impor selama Semester 1 2021, sebanyak 1,12 juta ton merupakan baja paduan dengan porsi 37% dari total impor. Jumlah ini melebihi kebutuhan baja paduan untuk industri dalam negeri yang hanya sekitar 10 persen,” tambah Silmy.

Direktur Industri Logam Kementerian Perindustrian Budi Susanto juga menyampaikan dukungannya terhadap industri baja nasional yang akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

“Industri baja merupakan industri strategis, industri prioritas yang harus kita dukung dengan kebijakan yang menguntungkan para pelaku industri baja di Indonesia. Kegiatan ekonomi yang semakin pulih akan berdampak pada penyerapan tenaga kerja dan kondisi secara keseluruhan akan memperbaiki kondisi Indonesia pascapandemi,” lanjut Budi.

Menutup kunjungan kerja ini, rombongan Komisi VII DPR RI dan Kementerian Perindustrian melihat langsung proses operasional pabrik HSM#2 Krakatau Steel. Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim berterima kasih atas dukungan Komisi VII DPR RI dan Kementerian Perindustrian untuk kemajuan industri baja nasional. Kedepannya, Krakatau Steel diharapkan dapat terus tumbuh dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

(Pria/Merah)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan