Komunitas Peduli Pendidikan SEVIMA Hadir Di Tengah Kompleksitas Manajemen Perguruan Tinggi – Aksesdisini.com

  • Bagikan

TEBET, AKSES DISINI – Masalah yang sering dihadapi oleh operator atau personel dari perguruan tinggi. Salah satunya berupa layanan sistem operasional kampus, pengelolaan keuangan, atau berbagai platform pembelajaran yang memfasilitasi pembelajaran.

Dari permasalahan tersebut, Komunitas SEVIMA hadir untuk membuat wadah untuk saling berbagi, saling mencoba, dan saling membantu menjawab tantangan pendidikan tinggi.

SEVIMA adalah perusahaan Education Technology (Edtech) yang telah berkiprah selama 18 tahun memberikan solusi layanan dalam dunia pendidikan tinggi. Model bisnis SEVIMA adalah Software as a Service (SaaS) dimana semua layanan SEVIMA berada di cloud dan dapat diakses melalui internet, konsultasi adalah salah satu layanan kami untuk membantu universitas menentukan solusi yang tepat.

SEVIMA awalnya didirikan pada tahun 2004 sebagai Perusahaan Perangkat Lunak dan pada tahun 2017 berubah menjadi Perusahaan SaaS B2B yang fokus memberikan layanan kepada universitas di seluruh Indonesia.

CEO SEVIMA Sugianto Halim mengatakan saat ini perusahaannya telah melayani lebih dari 500 kampus, dari Aceh hingga Papua. Mereka menyediakan layanan mulai dari sistem operasional kampus atau lebih dikenal dengan SIAKADCloud, manajemen keuangan kampus FinanceCLoud, atau EdLink Distance Learning Platform.

“Komunitas SEVIMA perlahan-lahan tumbuh hingga memiliki julukan tersendiri, yaitu para pejuang #PDDIKTI. Bersama sekitar 3200+ anggota komunitas SEVIMA, mereka selalu mengadakan acara webinar, penghargaan untuk anggota, dan diskusi tentang masalah pendidikan tinggi dan solusinya,” kata Sugianto saat dihubungi Ayojakarta, Jumat 30 Juli 2021.

Alasan di balik kepeduliannya terhadap dunia pendidikan

Ketika ditanya mengapa pendidikan, Sugianto menjawab bahwa pendidikan merupakan salah satu faktor penting yang dapat mengubah masa depan seseorang, bahkan masa depan suatu bangsa. Oleh karena itu, SEVIMA sebagai anak bangsa ingin mendukung revolusi pendidikan di Indonesia dengan berbagai solusi.

“Agar lembaga pendidikan benar-benar dapat berperan dalam tugas pokoknya dan biarkan kami (SEVIMA) menangani komplikasi operasional, administrasi dan pelaporan dengan bantuan kecanggihan teknologi terkini,” ujarnya.

Dalam diskusi dengan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Kabinet Maju Indonesia, Mohamad Nasir, yang mengakui adanya kesulitan bagi perguruan tinggi untuk menjalankan kegiatannya karena kurangnya integrasi. Jadi alih-alih mengajar, Nasir mengatakan civitas akademika justru sibuk melaporkan dan mengurus SPJ, yang merupakan masalah klasik di Indonesia.

“Sebenarnya pengelolaan perguruan tinggi tidak harus seperti itu. Seharusnya misalnya dosen memberikan kuis, nilai kuis tersebut harus otomatis tercatat dan masuk ke rapor mahasiswa dan dalam sistem pelaporan PDDIKTI. Sebagai gantinya, dosen membuat kuis menggunakan aplikasi Formulir Online, kemudian mengunduh lembar skor, kemudian merekap secara manual satu per satu, kemudian mengunggahnya lagi ke sistem akademik kampus, dan operator mengunggahnya lagi ke Basis Data Perguruan Tinggi,” kata Nasir.

Sugianto mengatakan hal inilah yang melatarbelakangi Komunitas SEVIMA untuk fokus pada dunia pendidikan dengan memberikan solusi terintegrasi berbasis IT untuk pendidikan tinggi.

Seberapa Besar Manfaat Produk SEVIMA Bagi Civitas Akademika Kampus?

Staf Layanan Teknologi dan Sistem Informasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Inayati Fajriyah mengatakan sudah dua tahun menggunakan salah satu produk SEVIMA, Profeeder. Sistem yang dibuat oleh SEVIMA ini merupakan solusi untuk mempermudah pemasukan data dan pelaporan data perguruan tinggi ke PD-Dikti sesuai dengan standar dan format yang telah ditetapkan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

“ITS tergolong universitas dengan data yang cukup besar. Ada sekitar 22 ribu siswa,” kata Inayati dalam video yang diunggah di situs SEVIMA.

Dikatakannya, sebelum menggunakan Profeeder, pihaknya kesulitan mendeteksi detail data antara yang ada di sistem informasi kampus dan data di Perguruan Tinggi. Selain itu, sistem belum dapat membandingkan secara user friendly.

“Sekarang bisa kita bandingkan secara langsung. Yang kiri itu data kampus dan yang kanan ada di Profeeder. Jadi kita bisa maklum kalau mahasiswa ini sebenarnya kekurangan data, misalnya kolom kelahiran misalnya,” kata Inayati.

Tidak hanya staf kampus, mahasiswa juga menggunakan produk SEVIMA. Contohnya adalah Ulvi yang merupakan mahasiswi di Politeknik Pariwisata Makassar.

“Salah satu fitur yang paling menarik ada di Edlink. Banyak sekali sumber informasi yang bisa kita baca, yang terpercaya dan akurat,” ujarnya.

“Edlink juga terhubung langsung dengan Zoom. Jadi tidak perlu pusing-pusing kalau ada forum (kelas online),” ujar Gizella, mahasiswi Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung.

Edlink juga merupakan salah satu produk yang dihasilkan oleh SEVIMA yaitu platform Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) lengkap dengan video conference, kuis interaktif, dan terintegrasi dengan SIAKAD.

Semangat gotong royong menjadi landasan dalam menawarkan produk kepada konsumen

Community Manager SEVIMA Ilham Dary mengatakan komunitasnya percaya bahwa membuka akses digitalisasi pendidikan adalah prioritasnya dalam merevolusi pendidikan di Indonesia. Apalagi, kata dia, jumlah kampus di Indonesia sekitar lima ribu lebih.

Dikatakannya, SEVIMA membuka pilihan terluas di setiap produknya, baik yang gratis maupun yang berbayar. Ilham mencontohkan, misalnya dalam sistem akademik, SEVIMA memiliki Gofeeder Community, dimana tim IT kampus bisa mendownload dan mendapatkan lisensi secara gratis kemudian menginstalnya di server masing-masing.

“Sistem pembelajaran online, ada juga Edlink Community. Kami menyediakan server dan platform secara gratis dengan perkiraan dapat digunakan oleh kurang lebih 750 mahasiswa,” jelasnya.

Bagi yang berminat berlangganan, Ilham menjelaskan, sistem akademik berbasis cloud juga tersedia. Menurutnya, hal ini dapat memudahkan kampus untuk tidak perlu repot menyediakan server dan membangun sistem jaringan.

“Berlangganan ini berdasarkan filosofi dan semangat gotong royong, karena perhitungan kami dengan civitas akademika, membuat server dan sistem sendiri selalu jauh lebih mahal daripada berlangganan,” jelas Ilham.

“Inilah yang membuat Komunitas SEVIMA begitu luas, sesuai dengan informasi yang kami tampilkan di Website dan dalam kegiatan Webinar. Ada kebersamaan berdasarkan kesamaan tujuan membangun perguruan tinggi yang dikuatkan dengan semangat gotong royong,” pungkasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan