KLHK Mempromosikan Bahaya dan Upaya Mengelola Polychlorinated Byphenyls | AksesDisini.com | Banten Hari ini

  • Bagikan

SERANG – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama United Nations Industrial Development Organization/UNIDO menyelenggarakan Webinar dengan tema “Regulation and Management of Polychlorinated Byphenyls (PCBs) dengan Perspektif Lingkungan untuk Mitigasi Bahaya Pencemaran Terhadap Lingkungan dan Manusia”.

Webinar ini bertujuan untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang bahaya senyawa Polychlorinated Biphenyls atau biasa disingkat PCB, serta upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk memitigasi dampak negatifnya.

Dalam pembukaannya, Rosa Vivien Ratnawati, Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah dan Limbah Bahan Berbahaya dan Berbahaya (PSLB3) KLHK menjelaskan, PCB merupakan jenis pencemar organik yang bersifat persisten, beracun yang masuk dan mencemari lingkungan, serta terakumulasi dalam rantai makanan. Pencemaran lingkungan oleh PCB yang umumnya terjadi saat menangani peralatan yang menggunakannya tidak dibarengi dengan penerapan prosedur yang benar.

“Senyawa ini sangat berbahaya bagi manusia, bersifat kumulatif dalam jangka panjang, dan dapat menyebabkan beberapa jenis penyakit degeneratif. Diantaranya adalah kanker, hipertensi, diabetes, gangguan sistem reproduksi, penurunan imunitas, peningkatan risiko penyakit jantung, dan gangguan sistem saraf,” kata Rosa dalam keterangan tertulis, Minggu (1/8/2021).

Menurut catatan, PCB telah mengambil korban untuk waktu yang lama, bahkan sebelum Deklarasi Stockholm 1972 diterbitkan. Pada tahun 1968 di wilayah utara Kyushu Jepang, tercatat 15.000 orang menderita penyakit pigmentasi kulit, peningkatan kematian janin, dan tercatat 400.000 kasus kematian unggas. Insiden ini kemudian dikenal sebagai insiden “Kanemi Yusho”, yang dinamai perusahaan “Kanemi Company” yang memproduksi minyak beras yang diketahui terkontaminasi senyawa PCB.

Ada juga 1.843 kasus dengan gejala yang mirip dengan kejadian Yusho yang terjadi pada akhir tahun 1979 hingga 1980 di wilayah Taiwan Tengah. Kasus ditemukan terjadi pada kelompok usia 11 sampai 20 tahun. Selain itu, terdapat kasus hiperpigmentasi atau bercak gelap pada kulit bayi yang lahir dari ibu yang terkontaminasi PCB. Di Irlandia, kasusnya sedikit lebih ringan, di mana PCB ditemukan dalam sampel domba yang disembelih untuk dijual. Temuan ini menyebabkan penyelidikan intensif oleh otoritas Negara.

“Tiga contoh ini membuat kita semua khawatir karena membuktikan bahwa PCB dapat masuk ke tubuh manusia melalui rantai makanan,” kata Rosa Vivien.

PCB banyak diterapkan pada peralatan listrik, termasuk cairan dialektika, transformator, kapasitor, dan peralatan rumah tangga seperti oven microwave, AC/AC, motor listrik, sirkuit elektronik elektro-magnetik, sakelar listrik, pemutus sirkuit otomatis, pompa vakum, daya kabel bahkan pada tinta, pelumas, cat dan aspal. PCB hanya dapat dideteksi melalui prosedur dan uji laboratorium dengan spesifikasi khusus. Pencemaran air, tanah dan udara oleh PCB dapat terjadi karena kesalahan penanganan yang tidak sesuai prosedur dan protokol saat melakukan perawatan terhadap peralatan yang mengandung dan/atau terkontaminasi PCB di industri.

Dijelaskannya, PCB sangat stabil, memiliki titik nyala atau flash point pada suhu 380 °C. Dan berdasarkan data, lebih dari 60% PCB di Indonesia digunakan pada trafo (atau trafo) dan kapasitor. Kebocoran yang mencemari lingkungan sangat mungkin terjadi, apalagi jika operator tidak memperhatikan aspek keselamatan dalam penanganan kompon ini. Dari beberapa survei lingkungan yang dilakukan di daerah aliran sungai, terutama di daerah yang banyak industrinya, di beberapa titik pengambilan sampel memang ditemukan PCB.

Oleh karena itu, menurut Rosa Vivien, pemerintah berkepentingan dan bertanggung jawab untuk menangani masalah ini. Pada tahun 2008, Indonesia memiliki Rencana Pelaksanaan Nasional untuk menghilangkan dan mengurangi penggunaan Polutan Organik, termasuk PCB. Pada tahun 2009, Indonesia juga meratifikasi Konvensi Stockholm. Tujuan konvensi ini adalah untuk melindungi manusia dan lingkungan dari dampak negatif senyawa pencemar organik yang persisten melalui beberapa mekanisme, antara lain pelarangan dan eliminasi.

Konvensi Stockholm telah menetapkan dua tenggat waktu global untuk penghapusan PCB secara bertahap. Pertama, pada akhir tahun 2025, semua transformator dan kapasitor operasional tidak boleh mengandung PCB sama dengan atau lebih besar dari (≥) 50 ppm. Kedua, pada akhir tahun 2028, semua bahan, limbah, trafo dan kapasitor dengan kandungan PCB 50 ppm harus dimusnahkan atau didekontaminasi.

Lebih lanjut, Rosa Vivien menyatakan bahwa Indonesia telah mengembangkan kebijakan dan regulasi terkait PCB. Hal ini merupakan upaya Indonesia untuk mengembangkan dan menerapkan Sistem Pengelolaan dan Pemusnahan PCB Ramah Lingkungan sebagaimana diamanatkan oleh Konvensi Stockholm. “Langkah dan tahapan Pengelolaan PCB Berwawasan Lingkungan diatur secara lebih teknis melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 29 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Polychlorinated Biphenyls yang telah diundangkan sejak 30 Desember 2020,” kata Rosa Vivien.

Untuk itu diperlukan upaya edukasi untuk meningkatkan pemahaman dan pengelolaan yang baik agar dampak buruk PCB dapat dihindari. Meningkatkan pendidikan masyarakat pada umumnya dan dunia usaha pada khususnya menjadi sasaran utama dari kegiatan webinar ini. “Kegiatan webinar ini penting sebagai media penyampaian informasi tentang bahaya PCB dan langkah apa yang telah dilakukan pemerintah Indonesia untuk memitigasi dampak negatifnya,” ujar Rosa Vivien.

Esam Alqararah, Perwakilan UNIDO untuk Indonesia dan Timor Leste mengatakan bahwa UNIDO telah mendukung upaya Indonesia untuk menghilangkan dan mengurangi penggunaan PCB sejak 2013. “Inisiatif kami berfokus pada pengenalan manajemen PCB yang ramah lingkungan, inventarisasi sumber PCB dan juga penghapusan PCB yang teridentifikasi. Selanjutnya, kami berupaya menghadirkan teknologi pengolahan PCB yang ramah lingkungan, dan mampu mengubah karakteristik PCB ke tingkat yang aman sesuai standar Konvensi Stockholm. Hal ini penting dicatat sebagai aksi kolektif yang dapat berkontribusi pada penghapusan PCB dan juga pencapaian SDGs di Indonesia,” kata Esam.

Di akhir sambutannya, Esam Alqararah mengajak masyarakat untuk mulai memulihkan ekosistem di sekitar kita dengan bertindak secara bertanggung jawab dan menghindari pencemaran lingkungan dari bahan kimia berbahaya. “Harta yang paling berharga adalah lingkungan kita, jangan tunggu sampai besok, mari kita mulai memulihkan ekosistem mulai hari ini,” pungkas Esam.

(Merah)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan