Kebangetan jika Ada Tudingan Polri Rekayasa Aksi Teroris, Disebut Ngawur

oleh -0 views

AKSES DISINI – Lembaga Kajian Strategis Kepolisian Republik Indonesia (Lemkapi) mengecam sekelompok orang yang menilai dua kasus terorisme, yakni bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar dan penyerangan di Mabes Polri adalah bohong-bohongan.

“Kami melihat tudingan itu adalah rekayasa yang keterlaluan. Itu pemikiran yang menggelikan. Bagaimana teror bisa direkayasa,” kata Direktur Eksekutif Lemkapi Dr Edi Hasibuan dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa.

Edi meminta masyarakat tidak menyampaikan informasi yang menyesatkan karena bisa membingungkan masyarakat.

“Semua buktinya sangat jelas. Korbannya juga sangat jelas. Kejadiannya juga sangat jelas. Bagaimana bisa polisi memanipulasinya,” kata mantan anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) itu.

Baca juga:
Bali Waspadai Aksi Teroris Pasca Bom Gereja Makassar dan Teroris di Mabes Polri

Ia mengajak publik untuk menyamakan pandangan bahwa terorisme adalah musuh negara dan masyarakat.

“Jangan sampai kita membiarkan teror terus muncul dan menimbulkan ketakutan di masyarakat. Kita ajak semua orang untuk memerangi teror demi keamanan negara kita,” kata pakar hukum kepolisian dari Universitas Bhayangkara, Jakarta ini.

Ia juga menilai Detasemen Khusus 88 Anti Teror Polri dan seluruh jajaran Polri telah bekerja keras untuk menegakkan hukum dalam aksi teror.

“Mari kita dukung dedikasi dan loyalitas Polri yang bekerja siang malam melindungi masyarakat dari berbagai ancaman teror,” ujarnya.

Sebelumnya, aksi teror bom bunuh diri terjadi di depan pintu gerbang Gereja Katedral Hati Kudus Yesus, Kota Makassar, Minggu (28/3).

Peristiwa tersebut menyebabkan dua orang teroris tewas di tempat, sedangkan 19 orang lainnya luka-luka.