Investasi Saham untuk Pendidikan Anak

  • Bagikan

Sebagai salah satu instrumen investasi dengan return yang tinggi, saham tentunya dapat digunakan untuk membantu kita menghimpun dana guna mewujudkan tujuan jangka panjang, termasuk salah satunya adalah biaya pendidikan anak.

Mengingat biaya pendidikan anak merupakan salah satu tujuan finansial setiap orang tua, apa saja hal yang dapat dilakukan terkait investasi saham dan penagihan biaya pendidikan anak? Berikut adalah lima ulasan yang disampaikan oleh Aulia Akbar CFP®, pendidik keuangan dan peneliti Lifepal.

1. Jangan menggunakan dana pendidikan yang ada untuk membeli saham.

Jangan pernah “menggunakan dana yang sudah ada dan sudah Anda siapkan untuk biaya pendidikan anak Anda untuk membeli saham”. Jika ini terjadi, Anda sama saja menggunakan hot money untuk berinvestasi. Sebaliknya, berinvestasilah dalam menggalang atau menambah dana pendidikan anak Anda.

Dana pendidikan yang ada harus digunakan untuk semua kebutuhan akademik anak Anda, baik itu membayar uang sekolah, membeli buku, seragam, membayar biaya bangunan, kredit, dan lain-lain, bukan untuk investasi atau perdagangan.

Jika Anda tidak memiliki dana menganggur, cukup anggarkan setidaknya 10% dari pendapatan bulanan Anda untuk membeli saham. Beli saham menggunakan metode rata-rata biaya setiap bulan.

2. Saham dapat digunakan untuk membiayai pendidikan anak ke jenjang yang lebih tinggi.

Jika Anda memiliki anak yang masih duduk di bangku kelas 3 SD, tidak ada salahnya membeli saham untuk membiayai pendidikannya di jenjang SMA atau S1. Hal ini karena investasi yang Anda lakukan memiliki target jangka panjang.

Sebut saja, pada 22 Januari 2010 saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dibanderol Rp 4.825 per saham. Namun pada 29 Januari 2021, harganya sudah mencapai Rp. 33.800. Mereka yang membelinya 11 tahun lalu akan mendapat untung 600 persen.

Selama saham yang Anda beli adalah saham perusahaan dengan profitabilitas tinggi, keuangan yang sehat, dan prospek bisnis yang menjanjikan, harga saham perusahaan tersebut akan terus tumbuh, meskipun volatilitas dalam jangka pendek.

3. Hindari membeli saham untuk dijual dalam jangka pendek.

Katakanlah Anda memiliki anak yang akan masuk SD, SMP, SMA atau masuk perguruan tinggi dalam satu atau dua tahun. Itu berarti, Anda akan membayar biaya kuliah dan biaya lainnya dalam jangka pendek.

Membeli saham untuk memenuhi tujuan keuangan jangka pendek adalah mungkin, tetapi “sangat berisiko.”

Transaksi di bursa sebenarnya tidak jauh berbeda dengan transaksi di pasar. Hukum ekonomi berlaku dalam perdagangan ini, ketika suatu saham dibeli oleh banyak investor maka harganya akan naik, begitu pula sebaliknya.

Fluktuasi saham dalam kurun waktu satu atau dua tahun memang sangat tinggi. Bisa jadi, karena sentimen buruk yang muncul dalam jangka pendek yang mempengaruhi imbal hasil kita.

Akan lebih baik untuk memilih instrumen risiko rendah. Sebut saja seperti deposito, surat berharga negara, atau reksa dana pasar uang.

4. Pastikan Anda memahami risiko berinvestasi saham

Investasi saham memiliki resiko yang tinggi dan tidak bisa dilakukan sembarangan.

Membeli saham seperti membeli sebuah perusahaan. Bahkan jika Anda tidak memiliki banyak, Anda telah membeli sebuah “bisnis”. Berinvestasi dengan membeli sebuah bisnis tentunya membutuhkan waktu yang lama.

Pahami analisa fundamental yang baik sebelum Anda membeli saham untuk berinvestasi. Kenali rasio yang menunjukkan profitabilitas, kesehatan keuangan, dan penilaian suatu perusahaan, bandingkan kinerja perusahaan dengan pesaingnya.

Hindari membeli saham hanya karena rumor atau mengikuti ajakan teman atau tokoh masyarakat.

Itulah hal-hal yang harus Anda pahami sebelum memilih saham sebagai instrumen investasi untuk memungut biaya pendidikan anak. Sebelum memulai investasi ini, pastikan terlebih dahulu Anda mengetahui berapa total dana pendidikan yang dibutuhkan dan berapa tahun target dana yang akan dikumpulkan. (*/bi)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: