Eksistensi Wakaf Melonjak Di Masa Pandemi, Dompet Dhuafa: Milenial Jadi Bagian Penting

  • Bagikan
Eksistensi Wakaf Melonjak Di Masa Pandemi Dompet Dhuafa Milenial Jadi

AKSES DISINI.com-General Manager Wakaf Dompet Dhuafa (DD) Bobby P Manulang menjelaskan, keberadaan wakaf di Indonesia saat ini sedang mengalami pertumbuhan di masa pandemi COVID-19.

“Ya, itu adalah hal yang mengejutkan bagi kami. Kami mengalami pengalaman yang berbeda dari institusi lain. Kami awalnya mengira pandemi akan mengurangi daya beli masyarakat, termasuk filantropi mereka,” kata Bobby pada acara Wakif Gathering di Khadijah Learning Center Dompet Dhuafa, Rawa Mekar. Jaya, Serpong, Kota Tangerang Selatan, Senin, 30 November 2021.

Namun, anggapan tersebut ternyata salah. Kondisi pandemi yang secara keseluruhan berdampak pada perekonomian rakyat kecil, dapat memicu kekhawatiran sejumlah kalangan untuk berlomba-lomba mengulurkan tangan.

“Di situlah kami mendapat momentum untuk memberikan dorongan yang lebih jelas untuk kemanfaatan aset wakaf kami. Dan Alhamdulillah ini berhasil ketika kami sampaikan kepada masyarakat bahwa aset wakaf yang kami kelola memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Maka, banyak orang mulai berbondong-bondong menjadi wakif atau orang yang diwakafkan.

“Bahkan, donatur sudah menggandakan donasinya. Sehingga rekor kita hari ini bisa tumbuh hingga 84 persen, dari tahun-tahun sebelumnya,” jelasnya.

Bobby mengatakan, membuktikan eksistensi wakaf di masa sulit ini tak lepas dari kontribusi kaum milenial. Peran penting mereka telah mengubah cara pandang masyarakat tentang wakaf.

“Sebelum kami intens menggunakan kanal digital, kami hanya memiliki segmen milenial kecil, hanya 5-10 persen. Saat itu wakaf masih diisi oleh segmen warga senior, atau orang yang berusia di atas 55 tahun,” katanya.

Berbagai kampanye telah dimulai dengan sejumlah inovasi yang mendorong kaum milenial untuk berkontribusi.

“Sekarang sudah mulai naik hingga 48 persen. Milenial menjadi bagian penting. Oleh karena itu, kami melakukan berbagai hal tentang bagaimana kami mengkampanyekan dan menggunakan saluran transaksi. Kami mulai menggunakan cara-cara yang mereka kenal,” jelasnya.

Salah satunya dengan konsep Wake Up Wakaf. Melalui konsep ini, pihaknya mengajak bahwa kemampuan finansial kaum milenial saat ini sudah tepat untuk berwakaf.

“Tidak ada batasan, walaupun dia mahasiswa atau bekerja paruh waktu, dia sudah bisa wakaf. Meski hanya Rp. 10 ribu,” jelasnya.

Sementara itu, Bendahara Yayasan Dompet Dhuafa, Hendri Saparini menjelaskan, melalui kegiatan ini pihaknya akan menjadikan wakaf sebagai landasan untuk memperbaiki permasalahan sosial dan ekonomi di Indonesia.

“Kami berusaha untuk dapat mendorong kontribusi untuk menyelesaikan berbagai masalah strategis di Indonesia, khususnya masalah sosial dan ekonomi,” jelasnya.

Sejumlah langkah dan capaian, kata dia, telah dilakukan. Mulai dari sektor jasa dasar, kebutuhan dasar, hingga ekonomi.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan