Dinilai dapat pemilih baru berkat menjadi menteri Jokowi, lalu berapa pemilih lama yang ‘melarikan diri’?

  • Bagikan

Akses Disini, Jakarta — Direktur Survei dan Pemungutan Suara (Spin) Indonesia, Igor Dirgantara, menilai masuknya Prabowo Subianto ke koalisi pemerintah tidak akan mempengaruhi elektabilitas Prabowo Subianto di Pilpres 2024 mendatang.

Namun, Igor tidak merinci angka sebaliknya, di mana banyak pihak memperkirakan ketua Gerindra akan ditinggalkan pendukung dan pemilihnya karena kecewa Pranowo yang didukung penuh justru membelot ke pihak berwenang setelah gagal menjadi Presiden. pada tahun 2019.

Igor hanya mengklaim pemilih Prabowo tidak akan mengalami penurunan yang signifikan karena mendapatkan pemilih baru dari pendukung Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menurut dia, migrasi pemilih Prabowo terus berlanjut, termasuk dari pendukung yang kecewa Gerindra bergabung dengan pemerintah.

teks alternatif

“Namun migrasi pemilih juga terjadi pada pendukung Pak Jokowi yang merasa menghargai dan mengapresiasi kinerja Pak Prabowo untuk bekerja sama dengan presiden mengatasi pandemi COVID-19,” kata Igor dalam keterangan tertulis, Minggu (12/9/2021). .

Seperti diketahui, Prabowo pertama kali menghadapi Jokowi di Pilpres 2014. Sementara itu, Prabowo kalah dan memutuskan Partai Gerindra menjadi oposisi. Pada lawatan tandang kedua di tahun 2019, Prabowo kalah lagi, namun memutuskan masuk kabinet Indonesia Maju.

Igor melanjutkan, peluang pada Pilpres 2024 terbuka lebar karena Prabowo memiliki partai politik. Selain itu, kata dia, berdasarkan hasil survei Spin, popularitas dan akseptabilitas Prabowo mengungguli nama-nama lain yang berpeluang menjadi calon presiden (capres).

Survei tersebut menyebutkan bahwa Prabowo berada di puncak perolehan popularitas dengan skor 89,1%. Akseptabilitasnya adalah 76,7%.

“Saya menilai Pak Prabowo masih di hati rakyat dan masyarakat juga menganggap memberi kesempatan kepada Pak Prabowo untuk mencalonkan diri lagi,” ujarnya.

Ia berpendapat, Prabowo memiliki sejumlah keunggulan sehingga layak menjadi capres. Pertama, komitmen terhadap demokrasi.

Hal itu, lanjut Igor, dibuktikan dengan kemurahan hati dalam setiap kontestasi politik yang diikuti Prabowo, seperti saat menjadi calon wakil presiden (cawapres) Megawati Soekarnoputri pada Pilpres 2009, Pilpres 2014, dan Pilpres 2019.

“Bahkan kalau saya mundur, waktu itu Pak Prabowo masih kader Golkar, dia ikut konvensi capres 2004 (dan) dia kalah, dia tidak pernah marah. Dia (kemudian) membuat Gerindra sebesar sekarang,” jelasnya.

Keunggulan selanjutnya, lanjut Igor, Prabowo dikenal di kancah global. Ia mencontohkan, Prabowo sempat diberikan izin masuk ke Amerika Serikat beberapa waktu lalu meski sempat dicekal karena diduga terlibat pelanggaran HAM berat.

“Prabowo selalu mengutamakan kepentingan rakyat. Hal ini terlihat dalam setiap pidatonya, baik saat menjadi Menteri Pertahanan maupun Ketua Umum DPP Gerindra,” kata Igor.

Menurut Igor, masalah Prabowo untuk maju di Pilpres 2024 hanya faktor usia. Namun, kata dia, hal itu tidak signifikan seperti yang terjadi di sejumlah negara seperti Presiden AS Joe Biden.

Sebagai informasi, survei yang digelar pada 7-21 Agustus 2021 itu melibatkan 1.670 responden di 34 provinsi. Penelitian menggunakan teknik multistage random sampling dengan rata-rata margin of error sekitar 2,4% pada tingkat kepercayaan 95%.

Editor: Alfian Risfil A

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: