Cerita Ibu Leni di Sigi, Gegara Bawa Batu dari Lokasi PETI Kini Masuk Bui

oleh -0 views

AKSES DISINI – Anggota DPR RI Matimndas J. Rumambi mempertanyakan kasus hukum yang menimpa seorang ibu rumah tangga di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, terkait dugaan membawa rep (batu / pasir mengandung emas) dari lokasi penambangan emas tanpa izin atau PETI di Dongi-Dongi. , Kabupaten Poso.

Masalahnya kenapa di hulu (lokasi PETI) orang bebas menambang kok, setelah di hilir ditangkap petugas, ”kata Matimndas J. Rumambi di Palu, Kamis (8/4/2021).

Ia menyinggung kasus yang menimpa Leni Nurianto (35), seorang ibu rumah tangga asal Desa Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, yang membawa perwakilan hasil Kaliki atau material yang diambil dari tempat pembuangan para penambang di bekas lokasi PETI Dongi-Dongi ke Kota Palu. . Selanjutnya rep tersebut diolah atau diolah di drum emas, Desa Poboya, Kota Palu.

Namun, saat membawa empat karung rep (dikumpulkan selama 3 bulan) ke tromol di Desa Poboya, tiba-tiba anggota Polda Palu ditangkap.

Baca juga:
Banjir Lumpur Melanda Salah Satu Desa di Kabupaten Sigi

Bahkan, kata dia, saat masih dalam perjalanan dari lokasi PETI Dongi-Dongi menuju Palu, petugas dari Polres Kabupaten Sigi diperiksa dan tidak ditahan.

“Kok setelah di Palu malah ditangkap oleh aparat Polda Palu,” kata Matindas seperti diberitakan Antara.

Menurut dia, kasus yang menimpa warga Desa Tongoa, Kabupaten Sigi memang tidak adil.

Jika benar kegiatan penambangan emas di bekas PETI Dongi-Dongi dilarang keras, lanjutnya, mengapa para penambang bebas melakukan kegiatan tersebut?

Akibat kasus ini, kini sang ibu rumah tangga ditahan oleh Kejaksaan Negeri Palu.

Baca juga:
Banjir Bandang Lunge, Sigi, Kabupaten Sulawesi Tengah

Sementara itu, Kepala Balai Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) Jusman membenarkan bahwa sejak Desember 2020 lokasi PETI Dongi Dongi yang berada di kawasan konservasi kembali diserang oleh penambang yang berasal dari luar kawasan.

Sebelumnya PETI Dongi Dongi sudah tutup total. Saat penutupan, petugas melakukan pengamanan dari Polsek dan Satpol PP.

Berdasarkan datanya, jumlah penambang di eks PETI Dongi-Dongi ini sekitar 6.000 orang dari berbagai daerah, termasuk Gorontalo dan Sulawesi Utara.

PETI Dongi-Dongi terletak di dalam kawasan konservasi TNLL seluas 15 hektar. Awalnya kawasan tersebut merupakan habitat hutan belantara bagi satwa endemik, seperti anoa, babi rusa, burung enggang, monyet hitam (makaka), tarsius, dan elang Sulawesi, serta kayu khusus (kayu leda).

Kini, kata Jusman, Arel mengalami deforestasi karena terus dieksploitasi oleh penambang yang hanya mementingkan kepentingan pribadi, tanpa memikirkan dampak yang bisa ditimbulkan, seperti banjir dan longsor yang terjadi di lokasi tambang emas di Parigi Moutong. Kabupaten beberapa waktu lalu hingga banyak korban terkubur.

Menurut dia, pihaknya sedang berkoordinasi dengan seluruh instansi terkait untuk melakukan penertiban atau penghentian kegiatan penambangan emas di PETI Dongi-Dongi.

“Butuh koordinasi dan sinergi dari semua pihak, termasuk Pemprov Sulteng dan Kabupaten Poso serta Sigi untuk menutup tuntas PETI dari kegiatan pertambangan,” ujarnya.