Berita  

Temu Suporter Sepak Bola, Syaiful Huda Minta Momen Kanjuruhan Tidak Sekedar Jadi Angin Lalu

Temu Suporter Sepak Bola Syaiful Huda Minta Momen Kanjuruhan Tidak
width:100%; margin bottom:0;margin

Pintu tertutup di Stadion Kanjuruhan akan menjadi bagian dari investigasi Tragedi Kanjuruhan. (AFP)

JAKARTA – Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda meminta agar momen Kanjuruhan tidak sekedar menjadi angin lalu. Ia mengaku hingga hari ini dirinya tidak merasakan percepatan perubahan merespons peristiwa itu.

Terbaik, 15 tahun lalu Indonesia pun telah kehilangan 75 supporter atas tragedi yang terjadi namun tidak ada tanggung jawab maupun apapun perubahan dalam manajemen penyelenggaraan.

“Ini harus menjadi awal kita bersama karena ukurannya dalam perubahan selama tidak ada perubahan, stop Liga 1. belum perlu dilaksanakan karena momentum kita ingin momentum perubahan kita bersama-sama. Ukuran perubahannya Ayo kita cari bersama,” ujar Huda dalam Rapat Dengar Pendapat Umum dengan Perwakilan Suporter Sepak Bola di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (8/11/2022).

Ia mengaku selama ini Komisi X DPR RI telah menanti perubahan dalam dunia persepakbolaan Indonesia. namun, setelah menunggu-nunggu tidak kunjung hadir.

Penerapan, lah pasal mengenai suporter dalam UU SKN guna mendorong percepatan perubahan. Adapun untuk penegakan Undang-Undang (UU), dirinya meminta penegakan dari UU yang sudah ditetapkan.

Menurutnya, di dalam UU itu jelas Siapa yang harus bertanggung jawab dan ada pidana.

“Di sana diatur dalam UU itu ada pidananya di sana. Siapa yang harus bertanggung jawab dan harus mengelola secara pidana. Saya merasa sampai hari ini UU itu belum ditegakkan untuk merespon peristiwa Kanjuruhan,” terang Politisi Fraksi PKB ini.

Ia pun mengungkapkan bahwa UU SKN yang saat ini memiliki pasal mengenai suporter di dalamnya.

Menurutnya alasannya ke dalam undang-undang adalah untuk menanamkan semangat untuk ada perubahan dalam dunia persepakbolaan.

“Saya termasuk yang meminta agar pasal suporter masuk dalam undang-undang. Saya dorong walaupun dialektikanya agak lama karena kalau kita runtut, tidak ada di negara manapun yang diatur oleh suporter sampai pada tingkat undang-undang, cukup di level federasi,” jelasnya.

Ia melanjutkan, dirinya berharap di masa mendatang pun terbentuk relasi suporter dengan klub yang lebih produktif. Sehingga sesuai dengan kondisi sepakbola di lapangan dapat terjaga.

Yakni, seluruh proses pertandingan pertandingan harus secepat-cepatnya memenuhi standar dari FIFA.

“Kalau di kemudian hari masa transisi ini sudah diatur, bagus, oleh federasi dan seterusnya, tidak ada masalah, pasal yang diatur dalam undang-undang ini untuk di kemudian hari kita bisa menghapus kembali kalau ekosistemnya sudah terbentuk dengan bagus,” pungkasnya.

Note:
Berita ini di ambil secara otomatis dari:

Media: D E T A K . C O

Penerbit:

Tanggal Terbit: 2022-11-10 17:53:43

Semua hak cipta atas postingan ini adalah milik D E T A K . C O

Tinggalkan Balasan