Berita  

Ace Hasan Tolak Rektor UIN Dipilih Langsung oleh Menag

Ace Hasan Tolak Rektor UIN Dipilih Langsung oleh Menag
width:100%; margin bottom:0;margin

Wakil Ketua Komisi VIII DPR Ace Hasan Syadzily.

JAKARTA – Wakil Ketua Komisi VIII DPR Ace Hasan Syadzily menolak cara pemilihan rektor Universitas Islam Negeri (UIN) ditunjuk langsung oleh Menteri Agama (Menag). Ace menganggap rektor bukan jabatan politik yang harus dipilih oleh pejabat politik.

Seperti pertanyaan pernah dipertanyakan semasa Menag Lukman Hakim Saifudin masih ada pada 2014 lalu.

“Soal sistem pemilihan Rektor untuk Perguruan Tinggi di bawah lingkungan Kementerian Agama RI, yaitu UIN, IAIN dan STAIN yang menggunakan Peraturan Menteri Agama Nomor 68 pernah kami pertanyakan dalam Rapat Kerja dengan Menteri Agama di era Pak Lukman Hakim Saifudin. Saya pernah menyampaikan agar aturan itu direvisi karena terkesan pemilihan itu sangat politis,” kata Ace baru-baru ini.

Ia manyatakan tidak setuju dengan mekanisme pemilihan Rektor UIN dengan penunjukan langsung Menteri Agama setelah melalui proses seleksi 3 (tiga) besar. Memilih Rektor itu bukan jabatan politis yang harus dipilih oleh pejabat politik.

Legislator F-Golkar ini pun merasa heran dengan tahapan wawancara calon rektor UIN Jakarta yang dilakukan di Surabaya, Jawa Timur.

Dia mempertanyakan mengapa proses wawancara itu tidak dilakukan di kampus UIN Jakarta atau kantor Kementerian Agama RI yang berlokasi di Jakarta.

“Soal proses wawancara calon rektor UIN Jakarta yang dilakukan di Surabaya, tentu bagi saya agak menarik. Untuk apa wawancaranya harus di Surabaya? Kenapa tidak di kampus UIN Jakarta misalnya? Atau di Kantor Kementerian Agama RI di Jakarta?” kata Ace.

Ace menyatakan lembaga pendidikan seperti hal yang seharusnya dijauhkan dari kepentingan politik. Menurutnya, yang paling mengetahui hal-hal strategis di kampus adalah pihak kampus itu sendiri.

“Kampus itu harus dijauhkan dari kepentingan politik. Pengelola Kampus seperti Rektor itu harus memiliki standar-standar akademis yang dapat dipertanggungjawabkan. Yang tahu kampus itu, ya orang kampus. Apalagi UIN Jakarta yang memiliki banyak Guru Besar yang terhimpun dalam Senat UIN Jakarta,” kata dia.

Oleh karena itu, Ace mengusulkan proses pemilihan rektor UIN dikembalikan ke semula. Menurutnya, proses pemilihannya dilakukan oleh stakeholder kampus bersama Kemenag.

“Setidaknya saya mengusulkan agar UIN Jakarta atau UIN lainnya yang memiliki kualifikasi unggul, proses pemilihan Rektornya dikembalikan pada mekanismenya bersama, yaitu perguruan tinggi bersama dengan Kementerian Agama, seperti halnya perguruan tinggi di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Ristek Dikti, ” katanya.

Note:
Berita ini di ambil secara otomatis dari:

Media: D E T A K . C O

Penerbit:

Tanggal Terbit: 2022-11-16 04:45:19

Semua hak cipta atas postingan ini adalah milik D E T A K . C O

Tinggalkan Balasan