Berikut Ketentuan Lengkap PPKM Level 4 di Jakarta hingga 25 Juli Sesuai Peraturan Gubernur Kegubernuran Anies – Aksesdisini.com

  • Bagikan

TEBET, AKSES DISINI — Melihat perkembangan kasus Covid-19 selama 14 hari terakhir, Gubernur Provinsi DKI Jakarta Anies Baswedan menerbitkan Keputusan Gubernur (Kepgub) Nomor 925 Tahun 2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Tingkat 4 Virus Corona. Penyakit 2019 selama 5 (lima) hari terhitung sejak tanggal 21 Juli – 25 Juli 2021.

Gubernur Anies Baswedan menyatakan kebijakan tersebut merupakan implementasi dari Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 22 Tahun 2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Tingkat 4 Penyakit Virus Corona di Wilayah Jawa dan Bali.

Menurut Anies, upaya PPKM akan terus dilakukan dengan mempertimbangkan tren kasus di lapangan dan diperkirakan akan membuahkan hasil dalam 5 hari ke depan.

“Kalau kita bisa disiplin bersama, tidak lengah, tidak lelah, untuk tetap menjaga protokol kesehatan dimanapun dan kapanpun. Saya juga tidak bosan mengajak semua jajaran, seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat kerjasama, saling mendukung. lainnya dalam situasi pandemi seperti sekarang ini,” kata Gubernur Anies dalam dokumen yang diterima. Ayojakarta.

Pelaksanaan protokol kesehatan COVID-19 dan pemberlakuan sanksi dalam Peraturan Gubernur ini dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Gubernur Nomor 3 Tahun 2021 tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2020 tentang Penanganan Corona Virus Disease 2019 .

Adapun jenis Pembatasan Aktivitas Masyarakat COVID-19 Level 4 adalah sebagai berikut:

1. Aktivitas di tempat kerja/kantor

– Sektor non-esensial:

Work From Home (WFH) sebesar 100% (seratus persen)

– Sektor esensial keuangan dan perbankan hanya mencakup asuransi, bank, pegadaian, dana pensiun, dan lembaga keuangan yang berorientasi pada layanan fisik dengan pelanggan:

Sebuah. Work From Office (WFO) sebesar 50% (lima puluh persen) untuk lokasi yang terkait dengan pelayanan kepada masyarakat, dengan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat; dan

B. Work From Office (WFO) sebesar 25% (dua puluh lima persen) untuk pelayanan administrasi perkantoran guna menunjang operasional, dengan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat

– Sektor-sektor penting: a. pasar modal (yang berorientasi pada pelayanan nasabah dan operasional pasar modal yang baik); B. teknologi informasi dan komunikasi meliputi operator seluler, pusat data, internet, layanan pos, media yang terkait dengan penyebaran informasi kepada masyarakat; dan C. hotel penanganan karantina non-covid-19.

50% (lima puluh persen) Work From Office (WFO) diberlakukan, dengan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat

– Sektor esensial industri orientasi ekspor dimana perusahaan harus menunjukkan bukti dokumen contoh Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) 12 (dua belas) bulan terakhir atau dokumen lain yang menunjukkan rencana ekspor dan wajib memiliki Izin Operasional dan Mobilitas Industri Kegiatan (IOMKI):

Sebuah. Work From Office (WFO) sebesar 50% (lima puluh persen) hanya di fasilitas produksi/pabrik, dengan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat; dan

B. Work From Office (WFO) sebesar 10% (sepuluh persen) untuk pelayanan administrasi perkantoran guna menunjang operasional, dengan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat

Sektor-sektor esensial di sektor pemerintahan yang memberikan pelayanan publik yang tidak dapat ditunda:

Work From Office (WFO) paling banyak 25% (dua puluh lima persen), dengan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat

– Sektor kritis:

Sebuah. kesehatan; dan B. keamanan dan ketertiban:

WorkFrom Office (WFO) sebesar 100% (seratus persen), dengan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat

– Sektor kritis:

Sebuah. manajemen Bencana; B. energi; C. logistik, transportasi, dan distribusi, terutama untuk kebutuhan dasar masyarakat; D. makanan dan minuman dan e. penunjangnya, termasuk untuk ternak/hewan peliharaan; F. pupuk dan petrokimia; g. semen dan bahan bangunan; H. objek vital nasional, i. proyek strategis nasional; J. konstruksi (infrastruktur umum); dan K. utilitas dasar (listrik, air, dan pengelolaan sampah):

Sebuah. Work From Office (WFO) 100% (seratus persen) hanya pada fasilitas produksi/konstruksi/pelayanan kepada masyarakat, dengan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat; dan

B. Work From Office (WFO) sebesar 25% (dua puluh lima persen) untuk pelayanan administrasi perkantoran guna menunjang operasional, dengan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat

2. Kegiatan Belajar Mengajar

– Sekolah/Universitas/Akademi/Pendidikan/Tempat Pelatihan: Dilakukan secara online

3. Kegiatan Bidang Kebutuhan Sehari-hari

– Swalayan, Toko Kelontong, dan Pasar Swalayan yang menjual kebutuhan sehari-hari: Jam operasional dibatasi hingga pukul 20.00 WIB dengan daya tampung pengunjung 50% (lima puluh persen), dengan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat

– Pasar Tradisional : Jam operasional dibatasi hingga pukul 13.00 WIB dengan daya tampung pengunjung 50% (lima puluh persen), dengan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat terutama untuk pasar induk dapat beroperasi sesuai jam operasional

– Apotik dan toko obat: Dapat buka selama 24 (dua puluh empat) jam, dengan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat

4. Aktivitas Makan/Minum di Tempat Umum

– Warung makan, rumah makan, cafe, PKL, warung jajanan (baik yang berlokasi di lokasi terpisah maupun yang berlokasi di pusat perbelanjaan/mall): Hanya menerima delivery/take away dan tidak menerima dine-in

5. Aktivitas di Pusat Perbelanjaan/Mall/Pusat Perdagangan

– Pusat perbelanjaan/mall/pusat perdagangan: Tutup sementara, kecuali akses ke restoran, supermarket, dan supermarket dapat diizinkan, dengan tunduk pada ketentuan sektor dan kegiatan kritis pada poin 1 dan 4

6. Kegiatan Konstruksi

– Lokasi konstruksi untuk infrastruktur publik (lokasi konstruksi dan lokasi proyek): Beroperasi 100% (seratus persen) dengan jam operasional, pengaturan kapasitas, dengan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat

7. Kegiatan Ibadah

– Tempat peribadatan (masjid, musholla, gereja, candi, pura dan klenteng serta tempat-tempat lain yang berfungsi sebagai tempat peribadatan):

Sebuah. tidak mengadakan ibadah/kegiatan keagamaan secara berjamaah selama pelaksanaan PPKM; dan

B. mengoptimalkan pelaksanaan ibadah di rumah.

8. Kegiatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan

– Fasilitas pelayanan kesehatan: Beroperasi 100% (seratus persen), dengan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat. Aktivitas di Tempat Umum dan Tempat Lain yang Dapat Membuat Keramaian

– Tempat umum, taman umum, tempat wisata umum dan tempat umum lainnya: Tutup sementara

– Tempat Resepsi Pernikahan: Dihentikan sementara

– Tempat-tempat seni, budaya, sarana olah raga, dan kegiatan sosial yang dapat menimbulkan keramaian dan keramaian: Tutup sementara

10. Aktivitas Moda Transportasi

– Kendaraan Umum, Angkutan Massal, Taksi (Konvensional dan Online) dan Kendaraan Sewa/Sewa: Penumpang maksimal 70% (lima puluh persen) dari kapasitas, dengan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat

– Ojek (Online dan Pangkalan): 100% (seratus persen) kapasitas penumpang, dengan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat

  • Bagikan